MEREKOSTRUKSI KEMUNDURAN ISLAM
Rasullullah saw
diutus kepada bangsa arab hanya dalam waktu 23 tahun 2 bulan 22 hari, pada saat
beliau pertama kali diutus, beliau membawa wahyu surah al-alaq kemudian
menerima wahyu terakhir alyauma akmltu lakum dinikum……… lalu lahirlah
sebuah umat baru, budaya baru atau masyarakat baru yang siap memimpin dunia dan
memang kelak memimpin dunia selama kurang lebih 1000 tahun. Hal ini merupakan
fenomena yang luar biasa dalam sejarah umat manusia, karena proses perubahan
besar hanya terjadi dalam rentang waktu yang singkat.
Sekarang, kalau kita merokunstruksi
kembali bagaimana hal itu terjadi, kita bisa simpulkan dengan proses sebagai
berikut ; bahwasanya allah swt mengutus Jibril sebagai pembawa wahyu untuk
disampaikan kepada Rasulullah, lalu wahyu itu merubah visi masyarakat arab
yaitu visi mereka tentang tuhan, manusia, alam dan visi mereka tentang
kehidupan, maka setelah visi mereka berubah, beruba pulalah struktur pola
kehidupannya atau kepribadiannya. Seorang pemikir barat bernama Emerson
mengatakan “Dalam skala pribadi, setiap persoalan yang kita alami adalah lahir
dari karakter-karakter dasar kita dan karakter-karakter itu adalah hasil
bentukan dari visi kita”. Coba kita lihat sekarang ini mengapa umumnya umat
islam sangat rendah tingkat pendidikannya, itu karena didasari oleh visi yang
keliru. Mereka berpikir untuk apa menjadi sarjana, padahal nantinya juga akan
mencari lowongan kerja (mencari materi). Sehingga mereka berpikir lebih baik
mencari pekerjaan daripada menghabiskan waktu menuntut ilmu. Padahal menuntut
ilmu jauh lebih mulia dibanding materi (harta), Rasulullah bersabda :
Contoh lain,
mengapa umat islam sekarang miskin? Apakah tidak tahu dagang? Saya rasa bukan
itu masalahnya, tapi masalah yang mendasar adalah mereka memang tidak mnyukai
hidup dalam kemiskinan, buktinya disaat miskin mereka tenang-tenang saja, tidak
kelihatan resah, artinya tidak berusaha semaksimal mungkin bagaimana agar
kehidupan ekonominya lebih baik, sebagaimana al-quran menggambarkan tipe orang
yang berpikir seperti itu.
Hijrah
yang demikian adalah kemampuan untuk keluar dari sebuah tekanan atau kemampuan
menemukan solusi dari setiap problamatika hidup. Hijrah adalah langkah yang
menunjukan bahwa kita lebih cerdas daripada permasalahan. Oleh karena itu,
hijrah mengandung arti mobilitas intelektual, kesiapan untuk terus berubah dari
sisi negatif menuju ke arah yang positif.
Ketika Rasulullah saw berda’wah di
mekkah dalam kondisi yang sulit, maka Rasulullah saw hijrah ke Madinah, tanah
atau wilayah bukanlah masalah, yang penting adalah manusianya. Sekorang
persoalan kita terbalik, kita cari tanah waqaf dimana-mana, bangun sekolah
dimana-mana, tapi kita keusulitan mendapatkan SDM. Contoh kecil misalnya;
pernah terjadi beberapa perusahan besar di Amerika memberhentikan para
karyawannya, beberapa tahun setelah karyawan-karyawannya diberhentikan, mereka
justru lebih kaya, lalu para ahli menejemen menganalisa masalah itu dan
menemukan jawabannya bahwa mereka kerika dipekerjakan mereka adalah orang-orang
yang berpengetahuan, jadi pengetahuannya membuat mereka bisa tetap eksis
kembali. Dengan demikian, model generasi yang kita inginkan di masa mendatang
untuk merekonstruksi lemunduran umat islam adalah generasi yang berpengatuhan
atau generasi yang memilik visi yang benar tentang tuhan, manusia, alam dan
visi mereka tentang kehidupan.
Patut kita catat, bahwa kebnerhasilan
Rasulullah saw dalam mengubah kehidupan bangsa arab yang luar biasa
kebobrokannya, membunuh anak perempuan dengan mengubur mereka hidup-hidup,
mabuk-mabukan menjadi kebiasaannya, menyembah patung, sehingga pada akhirnya
dapat menjadi umat yang mempunyai aqidah yang mantap, moralitas yang mulia,
pengetahuan yang tinggi, lalu dapat melebihi dari 2 kerajaan yang besar yaitu
persia dan Romawi bahkan lebih dari itu kesuksesan yang diraih bangsa arab pada
saat itu dapat memimpin dunia kurang lebih 1000 tahun. Nah, bagaimana cara kita
untuk bisa kembali memimpin dunia, tentu sebagai solusi dalam membenahi krisis
demi krisis yang menimpa umat islam agar bisa eksis kembali memimpin dunia
dengan menjadikan wahyu Allah tersebut sebagai pedoman hidup.
Alhamdulillah wahyu allah tersebut
masih ada disekitar kita. Sungguh merupakan suatu hali yang aneh kalau kita
ingin mencari ideolpgi baru untuk kita jadikan pedoman hidup. Sejak runtuhnya
khilafah islamiyah, berbagai macam ideologi telah diterapkan di dunia, seperti
sistem kapitalisme, sosialisme, feodalisme, pancasilaisme, sekularisme, tapi
hingga sekarang belum ada yang bisa meraih keberhasilan sebagimana kejayaan
umat islam memimpin dunia. “Abu Rif’at”
Komentar
Posting Komentar