Sekedar Berceloteh

Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan -SoeHokGie

-
Kalimat di atas merupakan salah satu kalimat yang paling saya kagumi yang pernah saya baca bahkan menjadi kalimat pembuka dalam Blog saya, bahkan saya sangat berharap prinsip itu betul - betul bisa saya interpretasikan dalam kehidupan saya.
salah  - satu kata kunci dari kalimat yang yang diungkapkan ole Soe Hok Gie itu adalah kata "Munafik", yang entah mengapa dalam beberapa waktu terakhir ini kata itu menjadi sangat akrab dalam setiap perbincanganku dengan kawan-kawanku, bahkan disetiap waktu dikala merenung dan menyendiri pun kata selalu muncul dalam benakku. dari situlah kemudian muncul ide untuk meluangkan apa yang menjadi belenggu dalam diri ini selama ini dalam sebuah tulisan yang sangat sederhana.
menurut saya semua orang ataupun sebuah kelompok dalam hal ini lembaga organisasi atau apapun itu pasti pernah terjerembab dalam sebuah lubang yang bernama kemunafikan, namun ketika kita mencoba untuk memahami hal tersebut maka kemunafikan itu sendiri terdiri dari banyak hal Ada kemunafikan yang memang sudah munafik sejak awalnya atau jelas-jelas munafik, ada juga kemunafikan yang sekilas terkesan tidak munafik atau bahkan terkesan baik yang saya sebut sebagai munafiknya munafik mungkin terkesan kurang baik tapi itulah pandangan saya. dalam tulisan ini mungkin saya tidak akan berbicara terkait jenis kemunafikan yang pertama yaitum kemunafikan yang nyata karena hai  itu sudah sangat jelas.
saya akan mengemukakan pendapat saya untuk jenis kemunafikan yang kedua karena ini sifatnya terselubung dan bahkan terkadang tidak disadari oleh pihak yang melakukannya atau mungkin berpura pura tidak mengetahuinya. dan saya pun tidak akan membicaran hal ini secara individu atau menjelaskan secara perorangan akan tetapi lebih kepada lembaga ataupun organisasi meskipun hal itu tidak terlepas dari individu-individu yang ada didalamnya.
kemunafikan semacam ini dalam sebuah organisasi terdapat dalam banyak hal apakah itu formalitas, kebiasaan, keklisean cara berfikir bahkan yang paling sring terjadi adalah karena dorongan kepentingan. dan hal inilah yang menjadi pemicu bagi saya untuk berpikir kritis karena bagi saya ini mengacak-acak rasa keadilan karena terkadang kemunafikan jenis ini menggunakan topeng keadilan dengan menggunakan formalitas sebagai tameng bahwa hal itu sudah sesuai dengan prosedur yang semestinya. dan orang orang didalamnya menjadikannya sebagai topeng keadilan.
maka dari itu perlu kita pahami bahwa keadilan itu adalah kesesuaian dengan proporsi akan tetapi hal ini sering kali tersamarkan oleh formalitas yang dihadirkan oleh suatu lembaga ataupun organisasi.
lebih spesifiknya dalam suatu organisasi terkadang melakukan rekayasa yang saya artikan sebagai "kemunafikan" dalam menjalankan suatu pekerjaan yang dilaksanakannya. dalam mencapai tujaun daripada kegiatan atau pekerjaan tersebut disinilah kemudian sering kali lahir "rekayasa-rekayasa" untuk mencapai tujuan mereka. tapi entahlah apakah saya terlalu negatif thinking terhadap fenomena yang menurut saya ganjil dan tidak sesuai dengan cara pandang yang saya gunakan. selain itu mengapa diawal saya juga sempat menyinggung persoalan keadilan karena terkadang mereka yang teguh pada prinsip-prinsip yang mereka pegang dan prinsip itu sebenarnya tidaklah melanggar apa yang menjadi kaidah kaidah ataupun aturan dari organisasi tersebut hanya saja pemikiran dan cara berperilaku yang agak berbeda dari kebanyakan individu-individu yang ada didalamnya tetapi sekali lagi bahwa itu tidaklah keluar dari apa yang menjadi kaidah-kaidah yang menjadi paham dalam sebuah organisasi tersebut. dan yang paling menyedihkan terkadang yang sering kali yang berjuang  mati-matian dilapangan (teknis) untuk memperjuangkan lembaga tersebut akan tetapi dengan gaya yang sedikit berbeda pada akhirnya juga akan tereliminasi apakah itu kerena keinginan pribadi yang jenuh melihat situasi yang terjadi dan bahkan lebih parah lagi masih ada yang ingin tetap bertahan dan berjuang tersingkir dengan berbagai cara kadangkala di cut ataupun dihalangi-halangi perjalanan karirnya dengan alasan-alasan formalitas dan berbagai persyaratan yang disertakan untuk menjatuhkan dan menyingkirkan individu-individu yang tidak sesuai degang kebiasaan-kebiasaan yang ada dan memungkinkan menggoyahkan kepentingan-kepentingan yang ingin dicapainya.

Pada akhirnya, yang saya harapkan adalah, semoga kita bisa melepaskan dan mendobrak kemunafikan-kemunafikan yang terjadi diberbagai level, terlebih apa yang saya tuliskan pada kesempatan ini, terlepas dari begitu banyaknya kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini.
satu kalimat yang patut kita ingat "hanya ada dua pilihan kita akan melawan arus dengan resiko kita akan terlempar atau kita hanyut bersama arus tersebut" Renungkan !!! 


Abdul Gafur Ibrahim P.

Komentar

Postingan Populer